Pengertian
Flavanoid
Flavonoid merupakan sejenis senyawa fenol terbesar yang ada,
senyawa ini terdiri dari lebih dari 15 atom karbon yang sebagian besar bisa
ditemukan dalam kandungan tumbuhan. Flavonoid juga dikenal sebagai vitamin P
dan citrin, dan merupakan pigmen yang diproduksi oleh sejumlah tanaman sebagai
warna pada bunga yang dihasilkan.Bagian tanaman yang bertugas untuk memproduksi
flavonoid adalah bagian akar yang dibantu oleh rhizobia, bakteri tanah yang
bertugas untuk menjaga dan memperbaiki kandungan nitrogen dalam tanah.
Tidak ada benda yang begitu menyolok seperti flavonoida yang
memberikan kontribusi keindahan dan kesemarakan pada bunga dan buah-buahan di
alam. Flavin memberikan warna kuning atau jingga, antodianin memberikan warna
merah, ungu atau biru, yaitu semua warna yang terdapat pada pelangi kecuali
warna hijau. Secara biologis flavonoida memainkan peranan penting dalam kaitan
penyerbukan tanaman oleh serangga. Sejumlah flavonoida mempunyai rasa pahit
sehingga dapat bersifat menolak sejenis ulat tertentu.
Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok fenol yang terbesar
yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu dan
biru dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan.
Flavonoid merupakan pigmen tumbuhan dengan warna kuning, kuning jeruk, dan
merah dapat ditemukan pada buah, sayuran, kacang, biji, batang, bunga, herba,
rempah-rempah, serta produk pangan dan obat dari tumbuhan seperti minyak
zaitun, teh, cokelat, anggur merah, dan obat herbal.
Senyawa ini berperan penting dalam menentukan warna, rasa,
bau, serta kualitas nutrisi makanan. Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan
senyawa flavonoid tertentu. Keberadaan flavonoid pada tingkat spesies, genus
atau familia menunjukkan proses evolusi yang terjadi sepanjang sejarah
hidupnya. Bagi tumbuhan, senyawa flavonoid berperan dalam pertahanan diri
terhadap hama, penyakit, herbivori, kompetisi, interaksi dengan mikrobia,
dormansi biji, pelindung terhadap radiasi sinar UV, molekul sinyal pada berbagai
jalur transduksi, serta molekul sinyal pada polinasi dan fertilitas jantan.
Sifat
Kimia dan Fisika dari Senyawa Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa polifenol sehingga bersifat
kimia senyawa fenol yaitu agak asam dan dapat larut dalam basa, dan karena merupakan
senyawa polihidroksi(gugus hidroksil) maka juga bersifat polar sehingga dapat
larut dalan pelarut polar seperti metanol, etanol, aseton, air, butanol,
dimetil sulfoksida, dimetil formamida. Disamping itu dengan adanya gugus
glikosida yang terikat pada gugus flavonoid sehingga cenderung menyebabkan
flavonoid mudah larut dalam air.
Pemisahan senyawa golongan flavonoid berdasarkan sifat
kelarutan dalam berbagai macam pelarut dengan polaritas yang meningkat adalah
sebagai berikut :
1. Flavonoid bebas dan aglikon,dalam eter .
2. O-Glikosida,dalam etil asetat.
3. C-Glikosida dan leukoantosianin dalambutanol dan amil
alkohoI.
Oleh karena itu banyak keuntungan ekstraksi dengan polaritas
yang meningkat.
Klasifikasi
Senyawa Flavonoid
Flavonoid merupakan metabolit sekunder yang paling beragam
dan tersebar luas. Sekitar 5-10% metabolit sekunder tumbuhan adalah flavonoid,
dengan struktur kimia dan peran biologi yang sangat beragam Senyawa ini
dibentuk dari jalur shikimate dan fenilpropanoid, dengan beberapa alternatif
biosintesis. Flavonoid banyak terdapat dalam tumbuhan hijau (kecuali alga),
khususnya tumbuhan berpembuluh. Flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian
tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, nectar, bunga, buah
buni dan biji. Kira-kira 2% dari seluruh karbon yang difotosintesis oleh
tumbuh-tumbuhan diubah menjadi flavonoid. Flavonoid merupakan turunan fenol
yang memiliki struktur dasar fenilbenzopiron (tokoferol), dicirikan oleh
kerangka 15 karbon (C6-C3-C6) yang terdiri dari satu cincin teroksigenasi dan
dua cincin aromatis. Substitusi gugus kimia pada flavonoid umum- nya berupa
hidroksilasi, metoksilasi, metilasi dan glikosilasi. Klasifikasi flavonoid
sangat beragam, di antaranya ada yang mengklasifikasikan flavonoid menjadi flavon,
flavonon, isoflavon, flavanol, flavanon, antosianin, dan kalkon. Lebih dari
6467 senyawa flavonoid telah diidentifikasi dan jumlahnya terus meningkat.
Kebanyakan flavonoid berbentuk monomer, tetapi terdapat pula bentuk dimer
(biflavonoid), trimer, tetramer, dan polimer. Istilah flavonoid diberikan untuk
senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kata flavon, yaitu nama dari salah satu
flavonoida yang terbesar jumlahnya dalam tumbuhan. Senyawa-senyawa flavon ini
mempunyai kerangka 2-fenilkroman, dimana posisi orto dari dari cincin A dan
atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1,3 diarilpropana dihubungkan oleh
jembatan oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru (cincin C).
Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis
tergantung pada tingkat oksidasi dari rantai propane dari system
1,3-diarilpropana. Flavon, flavonol dan antosianidin adalah jenis yang banyak
ditemukan di alam sehingga sering disebut sebagai flavonoida utama. Banyaknya
senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi,
alkoksilasi atau glikosilasi dari struktur tersebut. Senyawa-senyawa
isoflavonoida dan neoflavonoida hanya ditemukan dalam beberapa jenis tumbuhan,
terutama suku leguminosae. Masing-masing jenis senyawa flavonoida mempunyai
struktur dasar tertentu. Flavonoida mempunyai beberapa cirri struktur yaitu:
cincin A dari struktur flavonoida mempunyai pola oksigenasi yang
berselang-seling yaitu pada posisi 2,4 dan 6. Cincin B flavonoida mempunyai
satu gugus fungsi oksigen pada posisi para atau dua pada posisi para dan meta
aau tiga pada posisi satu di para dan dua di meta. Cincin A selalu mempunyai
gugus hidroksil yang letaknya sedemikian rupa sehingga memberikan kemungkinan
untuk terbentuk cincin heterosiklik dalam senyawa trisiklis. Flavonoid mempunyai
kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua cincin
benzene (C6) terikat pada suatu rantaipropana (C3) sehingga membentuk suatu
susunan C6-C3-C6.
Struktur
Flavonoid dan Aktivitas Antioksidannya
Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa metabolit
sekunder yang paling banyak ditemukan di dalam jaringan tanaman (Rajalakshmi
dan S. Narasimhan, 1985). Flavonoid termasuk dalam golongan senyawa phenolik
dengan struktur kimia C6-C3-C6 (White dan Y. Xing, 1951; Madhavi et al., 1985;
Maslarova, 2001) (Gambar 1). Kerangka flavonoid terdiri atas satu cincin
aromatik A, satu cincin aromatik B, dan cincin tengah berupa heterosiklik yang
mengandung oksigen dan bentuk teroksidasi cincin ini dijadikan dasar pembagian
flavonoid ke dalam sub-sub kelompoknya (Hess, tt). Sistem penomoran digunakan
untuk membedakan posisi karbon di sekitar molekulnya (Cook dan S. Samman,
1996).
Berbagai jenis senyawa, kandungan dan aktivitas
antioksidatif flavonoid sebagai salah satu kelompok antioksidan alami yang
terdapat pada sereal, sayur-sayuran dan buah, telah banyak dipublikasikan.
Flavonoid berperan sebagai antioksidan dengan cara mendonasikan atom
hidrogennya atau melalui kemampuannya mengkelat logam, berada dalam bentuk
glukosida (mengandung rantai samping glukosa) atau dalam bentuk bebas yang
disebut aglikon (Cuppett et al.,1954).

Gambar
1. Kerangka C6 – C3 – C6 Flavonoid
Flavanoid
dan Efek Biologisnya
Fakta menunjukkan bahwa hampir semua komponen nutrisi yang
diidentifikasi berperan sebagai agen protektif terhadap penyakit-penyakit
tertentu dalam survei/penelitian mengenai diet, sejauh ini mempunyai beberapa
sifat antioksidatif (Deshpande et al., 1985). Pada uraian sebelumnya, telah
dipaparkan bahwa beberapa senyawa flavonoid seperti quercetin, kaempferol,
myricetin, apigenin, luteolin, vitexin dan isovitexin terdapat pada sereal,
sayuran, buah dan produk olahannya dengan kandungan yang bervariasi serta
sebagian besar memiliki sifat sebagai antioksidan. Hal ini telah memperkuat
dugaan bahwa flavonoid memiliki efek biologis tertentu berkaitan dengan sifat
antioksidatifnya tersebut.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat
korelasi negatif antara asupan flavonoid dengan resiko munculnya penyakit
jantung koroner. Efek kardioprotektif flavonoid sebagai sumber diet telah
ditinjau oleh Cook dan S. Samman (1996). Antioksidan alami seperti flavonoid
yang banyak terdapat pada minuman dan buah anggur, diketahui memiliki
kontribusi dalam menghambat oksidasi LDL (low density lipoprotein) secara ex-vivo
(Kanner et al., 1994). Produk oksidatif LDL dapat menyebabkan terjadinya
penyempitan pembuluh darah koroner. Tampaknya aktivitas minuman anggur dalam
melindungi LDL manusia dari oksidasi terdistribusi cukup luas diantara
komponen-komponen phenolik utamanya (Frankel et al., 1995). Kemudian dengan
menggunakan Model Oksidasi in Vitro untuk Penyakit Jantung (in Vitro Oxidation
Model for Heart Desease) diketahui bahwa isoflavon ganeistein dan flavonone
hesperetin menunjukkan aktivitas antioksidan terikat-lipoprotein (IC50) yang
lebih tinggi dari tokoferol (Vinson et al., 1995a). Pada metode yang sama,
senyawa flavonol yang terdapat dalam teh diketahui bersifat sebagai antioksidan
yang kuat (Vinson et al., 1995b). Konsumsi tujuh sampai delapan cangkir teh hijau
yang mengandung epigallocathecingallate (kira-kira 100 mL tiap cangkir) dapat
meningkatkan resistensi LDL terhadap oksidasi in vivo, sehingga dapat
menurunkan resiko terkena penyakit kardiovaskuler (Miura et al., 2000). Hasil
dari studi yang dilakukan oleh Zhu et al. (2000) menunjukkan bahwa
senyawa-senyawa flavonoid alami seperti kaempferol, morin, myricetin, dan
quercetin memiliki aktivitas perlindungan yang bervariasi terhadap penurunan
kandungan α-tokoferol dalam LDL sedangkan kaempferol dan morin kurang efektif
dibandingkan dengan myricetin dan quercetin. Komponen α-tokoferol (bentuk umum
vitamin E) dikenal sebagai antioksidan primer yang dapat melindungi LDL dari
oksidasi.
Selain efek kardioprotektif, telah banyak pula hasil
penelitian yang menunjukkan bahwa flavonoid mempunyai kontribusi dalam
aktivitas anti-proliferatif pada sel kanker manusia. Diketahui bahwa dari hasil
penelitian, tangeretin, suatu senyawa flavonoid yang terdapat pada citrus,
dapat menghambat sel tumor manusia (Bracke et al., 1994). Manthey dan Najla
Guthrie (2002) menyatakan bahwa senyawa flavone polymethoxylated pada citrus
(termasuk senyawa alami dan sejumlah senyawa analog sintetisnya) menunjukkan
aktivitas anti-proliverativ terhadap 6 jenis sel kanker. Aktivitas yang tinggi
dapat dilihat pada 5-desmethylsinensetin, suatu senyawa minor pada kulit jeruk
(orange), dengan nilai rata-rata IC50 dan IC90-nya adalah 1,4 dan 4,4 μM.
Sedangkan nilai rata-rata IC50 dan IC90 untuk kelompok senyawa alami terhadap 6
sel kanker adalah 7,6 ± 9,4 dan 29,2 ± 39,4 μM.
Simplisia
Tanaman Yang Mengandung Flavonoid
Flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan
termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepungsari, nektar, bunga, buah dan biji.
Hanya sedikit catatan yang melaporkan flavonoid pada hewan, misalnya dalam
kelenjar bau berang-berang, propilis (sekresi lebah), sayap kupu-kupu, yang
mana dianggap bukan hasil biosintesis melainkan dari tumbuhan yang menjadi
makanan hewan tersebut, Senyawa antosianin sering dihubungkan dengan warna
bunga tumbuhan. Sianidin umumnya terdapat pada suku Gramineae. Senyawa
biflavonoid banyak terdapat pada subdivisi Gymnospernae sedang isoflavonoid
pada suku leguminosae. Pada tumbuhan yang mempunyai morfologi sederhana seperti
lumut, paku, dan paku ekor kuda mengandung senyawa flavonoid O-GIikosida,
flavonol, flavonon, Khalkon, dihidrokhalkon, C-Gl ikosida . Angiospermae
mengandung senyawa flavonoid kompleks yang lebih banyak.
Berikut beberapa contoh tanaman yang mengandung flavonoid :
1.
Kembang
Sepatu
Nama simplisia : Hibiscus rosa-sinensidis
Folium, Hibiscus rosa sinensidis Radix
Nama
Tanaman Asal : Hibiscus rosa-sinensis L.
Keluarga : Malvaceae
Zat
berkhasiat :
Lendir, flavonoid, dan zat samak
Penggunaan : Akar : Batuk, bronkitis, demam, haid tidak
teratur, infeksi saluran kemih, keputihan, pelembut kulit, radang
kemih dan sariawan, bisul (obat luar), radang kulit bernanah (obat
luar), radang payudara(obat luar) Anti inflamasi, diuretik,
analgesik, sedatif, dan ekspectoran.
2.
Mahoni
Nama
simplisia : Swieteniae Radix
Nama
Tanaman Asal : Swietenia mahaboni Jacq.
Keluarga : Meliaceae
Zat
berkhasiat :
Saponin dan flavonoida
Penggunaan : Tekanan darah tinggi (hipertensi), kencing
manis (diabetes militus), kurang nafsu makan, masuk angin, demam, rematik.
3.
Nangka
Nama
simplisia : Artocarpi Lignum
Nama
Tanaman Asal : Artocarpus integra Merr.
Thumb.
Keluarga : Moraceae
Zat
berkhasiat : Morin,
flavon, sianomaklurin (zat samak), dan tannin
Penggunaan : Anti spasmodik dan sedative
4.
Remak
Daging
Nama
simplisia : Hemigraphis
coloratae Folium
Nama
Tanaman Asal : Hemigraphis colorata Hall.
Keluarga : Euphorbiaceae
Zat
berkhasiat :
Flavonoid, natrium, senyawa kalium
Penggunaan : Disentri, wasir, perdarahan sesudah
melahirkan. Diuretik dan hemostatik
5.
Temu
Putih
Nama
simplisia : Zedoariae Rhizoma
Nama
Tanaman Asal : Curcuma zedoaria Berg.
Roscoe.
Keluarga : Zingiberaceae
Zat berkhasiat : Minyak atsiri zingiberin,
sineol, prokurkumenol, kurkumenol, kurkumolisofuranolgermakrena,
kukumadeol, hars, zat pati lendir, minyak lemak, saponin, polivenol dan
flavonoid.
Penggunaan : Kanker rahim, kanker kulit, pencernaan tidak baik,
nyeri hamil rahim membesar, sakit maag, memar (obat luar), pelega perut.
Antineoplastik, kholeretik, stomakik, antiflogostik, dan antipiretik.
PERMASALAHAN :
1.
Bagaimana
jika flavonoid bebas di ektraksi menggunakan pelarut polar, apa yang akan
terjadi dan bagaimana hasilnya ? tolong jelaskan menurut pendapat anda !
2. Apa manfaat
dari senyawa flavonoid bagi tubuh?
3. Manakah
yang lebih baik mengkonsumsi flavonoid dari makanan segar daripada lewat
suplemen obat ?
4.
Bagaimanakah
pengaruh gugus dari masing-masing senyawa golongan flavonoid sehingga memiliki
bioaktivitas yang beragam?
5. Apakah bioaktivitas senyawa flavonoid
yang terikat berbeda dengan bioaktivitas senyawa flavonoid bebas?
BaikBai saya akan menjawab permasalahan no 2
BalasHapusBerikut manfaat – manfaat khusus dari senyawa Flavanoid untur diri kita:
1. Flavanoid Sebagai antioksidan
Seperti yang sudah disebutkan manfaat secara umum dari senyawa Flavanoid adalah untuk mengusir Radikal Bebas. Radikal Bebas dapat berkembang dengan melakukan oksidasi terhadap sel – sel sehat. Oleh karena itu tubuh perlu manfaat antioksidan yang cukup untuk mencegah terjadinya oksidasi. Flavanoid bereperan sebagai oksidasi.
Sumber Antioksidan :
Manfaat Wortel
Manfaat bawang putih
2. Flavanoid Mengusir polusi dalam tubuh
Terciptanya polusi di lingkuangan kita tinggal memang memberi dampak yang buruk secara perlahan terhadap tubuh kita. Manfaat Senyawa Flavanoid sangat efektif untuk masalah yang satu ini. Ia akan mengusir polusi dalam tubuh kita seperti dari asap rokok dan asap kendaraan yang jelas beracun.
Penting untuk melawan radikal bebas
Manfaat vitamin E
Manfaat buah leci
Manfaat buah duku
3. Senyawa Flavanoid Dapat Mencegah penuaan dini
Selain untuk dalam tubuh, Flavanoid juga memberi manfaat pada kesehatan kulit kita. Salah satunya mencegah terjadinya penuaan dini. Kulit yang terpapar polusi memang menyebabkan kulit menjadi mudah kusam dan mengalami penuaan yang lebih cepat. Maka dari itu Flaavanoid akan meregenerasi kulit dan mengencangkat juga menghilangkan kerutan akibat penuaan dini.
Penting untuk penuaan dini :
Manfaat lidah buaya
Manfaat air kelapa
Manfaat minyak lintah
4. Senyawa Flavanoid Untuk Menghindari penyakit mematikan
Penyakit – penyakit mematikan seperti penyakit jantung, kanker, dan tumor memang patut untuk dihindari. Dua penyebab timbulnya penyakit ini ialah pola hidup yang buruk dan faktor genetik. Flavanoid akan membantu kita terhindar dari penakit – penyakit mematikan tersebut karena membantu Radikal Bebas agar dapat hidup secara stabil dan tidak merusak sel.
5. Flavonoid Dapat Mencegah penyakit aterosklorosis
Penyakit ateroklorosis adalah penyakit yang menyerang dinding arteri di mana adanya pertumbuhan lemak berlebih dalam bagian tersebut. Tumbuhnya lemak dalam dinding arteri dapat menyebabkan aliran darah terhambat dan tidak mengalir sempura ke otak dan jantung kita.
6. Flavanoid Sebagai Penolak alergi
Senyawa Flavanoid juga dapat berepran sebagai penolak alergi. Flavanoid akan memasang pagar dalam tubuh kita untuk menolah adanya respon atau reaksi negatif dari tubuh terhadap sebuah keadaan.
Efektif mengobati alergi :
Manfaat daging ular
Manfaat madu
Manfaat daun mengkudu
7. Flavanoid Efektif Mengusir virus
Karena menstabilakan jalannya Radikal Bebas, Flavanodi juga akan mengusir virus yang dapat menghinggapi sel – sel dalam tubuh. Misalnya sel dalam darah yang mudah sekali terseraang virus.
Efektif mengusir virus :
Manfaat daun pepaya
Manfaat air kelapa hijau
Manfaat daun sirsak
8. Flavanoid Efektif Menghindari trombus
Senyawa yang satu ini juga dapat membuat darah merah dalam tubuh kita mengalir tanpa terjadinya penggumpalan atau trombus. Penggumpalan darah dalam tubuh dapat memberi efek yang serius contohnya penggumpalan dalam otak yang dapat menyebaabkan penyakit minengitis.
9. Sebagai anta diare
Diare yang merupakan penyakit yang sering menghinggapi anak – anak dan orang lanjut usia ini memang menjadi masalah yang cukup serius karena sering menghilangkan nyawaa seseorang. Diare yang dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan memang wajib dihindari dengan memakan makanan yang bersih dan bergizi. Salah satunya makanan yang mengandung sneyawa Flavanoid. Selain itu dijaga juga kebersihan diri sendiri dan lingkungan.
Baik untuk diare :
Manfaat daun jambu biji
Manfaat sirih
Manfaat delima
10. Kekebalan tubuh
Manfaat senyawa flavanoid adalah dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dari seluruhnya ini manfaat yang paling mencakup semuanya. Karena sneyawa Flavanoid memang menjadi senyawa yang membantu tubuh kita untuk menjadi lebih kebal. Atau setidaknya menstabilkan kekebalan tubuh kita.
Baik untuk sistem kekebalan tubuh :
Manfaat telur bebek
Manfaat kulit manggis
Manfaat ikan salmon
Manfaat brokoli
Assalamualaikum wr,wb, Saya Maya Rizkita (A1C116028) akan menjawab permasalahan ketiga, Manfaat flavonoid akan lebih besar pengaruhnya jika dikonsumsi dalam bentuk alaminya, bukan dikonsumsi dalam bentuk suplemen. Belum ada cukup bukti medis kuat yang dapat mendukung bahwa suplemen flavonoid benar bermanfaat.
BalasHapusTerlebih, dosis flavonoid yang lumayan tinggi pada kebanyakan produk suplemen justru dapat membahayakan kesehatan, terutama bagi ibu hamil dan menyusui serta anak-anak. Kadar flavonoid yang di luar batas wajar dapat masuk ke dalam plasenta yang dapat berbalik berdampak negatif pada tumbuh kembang janin dalam kandungan. Agar lebih amannya, konsultasikan dulu dengan dokter sebelum mencoba-coba konsumsi suplemen apapun selama kehamilan. Semoga bermanfaat.
saya DHEA IVONTIA akan mencoba menjawab permasalahan anda nomor 5 yaitu Apakah bioaktivitas senyawa flavonoid yang terikat berbeda dengan bioaktivitas senyawa flavonoid bebas?
BalasHapusiya berbeda, karena jika dilihat dari cara isolasinya pun sudah berbeda, pasti flavonoid terikat lebih sukar diisolasi dari flavonoid bebas. oleh karena itu maka bioaktivitasnya pun akan berbeda karena pasti struktur mereka pun berbeda, meskipun sama-sama senyawa turunan flavonoid jika strukturnya berbeda sudah pasti memiliki perbedaan dalam aktivitasnya pula.
Baiklah ayu saya akan menjawab permasalahan anda no 4 :
BalasHapusUntuk menjawab pertanyaan anda berikut saya sajikan pengaruh gugus terhadap bioaktivitas senyawa flavonoid.
1 Antioksidan
–OH ganda, terutama keterikatan antara gugus C=O pada C-4 dan gugus –OH pada C-3 dan C-5
Dua gugus –OH pada C-3 dan C-4’ pada ring B dan memiliki dua gugus yang sama pada C-6 dan C-7 pada ring A. Flavon, Flavanol
2 Menghambat lipid peroksidase Dua gugus –OH dengan posisi orto pada ring B, ikatan rangkap antar C-2 dan C-3 yang terkonjugasi dengan okso pada C-4 pada ring C ,dan dua gugus –OH pada C-3 dan C-5 pada ring A Flavonoid
3 Anti tumor dengan mekanisme menghambat protein kinase ü Gugus –OH pada C-5 dan C-4’
ü Gugus –OH pada C-5 dan C-7, C-5 dan C-4’, C-6 dan C-3’, C-5 dan C-7 serta C-4’
ü Gugus –OH pada C-4’ (paling poten)
Aktivitas ini akan menurun bahkan tidak aktif bila pada gugus hidroksil di substitusi dengan metoksi atau glikosilasi. Flavon
4 Antiinflamasi Gugus C=O pada C-4 dan gugus –OH pada C-5 diperlukan untuk membentuk kompleks dengan besi Flavonoid
Nama saya dolla mulyana harnas dengan nim a1c116080 akan menjawab nomor 1 Flavonoid pada umumnya larut dalam pelarut polar, kecuali flavonoid bebas seperti isoflavon, flavon, flavanon,dan flavonol termetoksilasi lebih mudah larut dalam pelarut semipolar. Oleh karena itu pada proses ekstraksinya, untuk tujuanskrining maupun isolasi, umumnya menggunakan pelarut methanol atauetanol. Hal ini disebabkan karena pelarut ini bersifat melarutkan senyawa–senyawa mulai dari yang kurang polar sampai dengan polar.
BalasHapus